BIN Telusuri Isu Penyadapan Intelijen Inggris

Seperti diberitakan The Sidney Morning Herald edisi 26 Juli lalu menurunkan sebuah berita berjudul “Rudd Given G20 Indon Spy Report” yang berisi manfaat bagi Perdana Menteri Australia kala itu, Kevin Rudd dalam KTT G20 di London setelah mendapat pasokan informasi intelijen dari Inggris. Berita dengan sumber dari intelijen dan kementerian luar negeri Australia itu mengungkapkan bahwa dalam sesi pertemuan para kepala negara G20 di London itu, delegasi negeri Kanguru itu mendapat pasokan informasi yang sangat baik, bahkan berlimpah dari intelijen Inggris dan Amerika Serikat.

 ”Rudd (PM Australie, red) sangat semangat dengan informasi intelijen, terutama dari para pemimpin Asia-Pacific seperti Yudhoyono, Manmohan Singh (PM India, red) dan Hu Jianto (mantan Presiden Tiongkok, red),” kata sumber yang minta namanya dirahasiakan itu.

Sumber itu juga telah membocorkan informasi kepada Fairfax Media tentang pentingnya informasi dari Inggris dan AS untuk mendukung tujuan diplomasi Australia, termasuk kampanye untuk memenangi kursi di Dewan Keamanan (DK) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  “Tanpa dukungan intelijen yang luar biasa yang disediakan AS, kita tidak mungkin memenangi kursi,” kata sumber yang juga pejabat di Departemen Urusan Luar Negeri dan Perdagangan Australia itu.

Dokumen penyadapan yang dirilis ke Fairfax Media berdasar undang-undang kebebasan informasi itu juga mengungkapkan bahwa mantan PM Australia, Julia Gillard, pada bulan lalu sudah diberitahu tentang pengungkapan dokumen intelijen AS oleh Edward Snowden bahwa intel negeri Paman Sam dan Inggris menyasar para pemimpin luar negeri dan pejabat tinggi yang menghadiri KTT G20 di London.

Sementara, pemerintah mengetahui informasi penyadapan terhadap presiden melalui dua media Australia, yaitu The Age dan The Sydney Morning Herald yang berada di bawah Fairfax Media. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum memberikan reaksi terhadap penyadapan pada Indonesia saat mengikut Konferensi Tingkat Tinggi G20 di London. Hal ini terjadi meski pemerintah sudah menerima informasi mengenai penyadapan sejak Juni lalu.

“Belum kami ketahui reaksi presiden. Dari segi etika hubungan antarnegara, penyadapan memang harus dihindari. Informasi dapat melalui mekanisme dan cara yang wajar dalam hubungan antarnegara,” kata Staf Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah saat ditemui di Istana Negara, Senin, 29 Juli 2013.

Ia menyatakan pemerintah memang sudah mengetahui bahwa ada tindakan penyadapan yang dilakukan Amerika dan Inggris sebagai tuan rumah pada beberapa negara tertentu. Akan tetapi, menurut dia, informasi subtansi alasan penyadapan terkait dengan pencalonan sebagai Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB). “Substansi beragam sekali, apakah substansi di G20 atau yang lainnya. Kita harus lihat kembali,” kata Faiz.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia meminta penjelasan dari Inggris terkait kegiatan spionase diplomatik yang dilakukan terhadap para anggota delegasi pertemuan G-20 di London pada April dan September 2009.  Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, penjelasan ini penting untuk menghindari kesalahpahaman. “Agar tidak terjadi kesalahpahaman antara dua negara,” kata Tenne ketika dihubungi Rabu, 19 Juni 2013. Permintaan penjelasan ini hanya melalui lisan, tidak melalui surat tertulis. Tene membantah jika selama ini Indonesia sering disadap oleh negara lain. Indonesia sudah mempunyai cara tertentu agar informasi atau dokumen rahasia tidak bocor. “Tapi yang upaya penyadapan seperti itu selalu dilakukan tertutup,” kata Tenne.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letjen Marciano Norman mengungkapkan bahwa pihaknya tidak sepenuhnya percaya pada pemberitaan seputar penyadapan oleh mata-mata Inggris terhadap delegasi Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono di KTT G20 di London, Inggris, pada April 2009 lalu. Meski demikian, BIN tetap akan menyelidikinya. Selama penelusuran belum selesai, Kepala BIN Marciano Norman mengaku belum sepenuhnya percaya atas informasi tersebut.

“Itu pemberitaannya berasal dari KTT G20 April 2009 di London. Kemudian pemberitaan muncul setelah salah satu agen NSA (Agensi Keamanan Nasional AS) yang sekarang sedang berada di satu negara, memberikan informasi itu. Itu pemberitaan sepihak, memerlukan juga klarifikasi dari pihak lain,” kata Marciano di Kantor Presiden, Jakarta, Senin ((29/7/2013).

Menurut Marciano, selain mendapat informasi dari pemberitaan di media Inggris dan Australia, pihaknya juga mendapat informasi penyadapan tersebut dari intelijen Indonesia di luar negeri. Namun, hingga saat ini penelusuran kebenaran informasi masih dilakukan.

“Itu pemberitaan sepihak, memerlukan klarifikasi dari pihak lain. Kita berkomunikasi dengan counterpart kita yang ada di tiga negara tersebut untuk kita mencari informasi yang sebenarnya, menurut pandangan mereka seperti apa. Ini sedang dalam proses,” kata Marciano di Kantor Presiden, Jakarta, Senin

Marciano mengatakan, kunjungan kepala negara atau kepala pemerintahan di negara mana pun harus mendapat jaminan keamanan termasuk komunikasi. Pihaknya akan mengevaluasi sistem keamanan informasi agar kebocoran tidak terjadi.

“Saat ini sangat cepat perkembangan teknologi itu sehingga kita harus selalu berada dalam posisi mengimbangi. Kalau tidak dengan mudah kita akan mengalami informasi bocor,” kata Marciano. Seandainya penyadapan benar terjadi, lanjut Marciano, hal itu sangat memprihatinkan dan melanggar tata krama hubungan internasional.

Kini, kata Marciano, pihaknya menunggu hasil penelusuran jajaran intelijen Indonesia. “Apabila terjadi kebocoran ini dan itu dengan suatu upaya yang sengaja, saya rasa pemerintah negara manapun yang menjadi delegasi akan keberatan dengan itu. Kita harus beri jaminan itu termasuk di kegiatan APEC nanti,” tandas Marciano.

Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan, pihaknya sudah meminta konfirmasi kepada Pemerintah Inggris terkait pemberitaan tersebut.  “Kita masih mencoba mengonfirmasi kebenaran berita tersebut,” kata Marty. (nr)

Risalah terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge