Kasus Penembakan Polisi: Skenario Terbaru Terorisme Indonesia

SKETSA WAJAH PENEMBAK PONDOK AREN

SKETSA WAJAH PENEMBAK PONDOK AREN

Turut menyampaikan selamat atas semakin terungkapnya skenario cerita terorisme di Indonesia. Intelijen lemah, Polisi kebobolan, TNI melempem, bom meledak di mana-mana. Kurang lebih begitulah cerita awal terorisme, sekitar 6-7 tahun silam. Hingga kini, skenario cerita terorisme berubah, sebanyak empat anggota Kepolisian tewas akibat penembakan yang dilakukan oleh orang tak dikenal.Versi Mabes Polri menduga kuat bahwa jaringan Abu Umar berada di balik aksi penembakan anggota polisi. “Kami menemukan peluru berukuran 9,9 milimeter, peluru yang sama yang pernah kami dapatkan dari jaringan Abu Umar,” kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Boy Rafli Amar.

Pernyataan senada dengan Boy,  Director Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC), Sidney Jones, mengatakan bahwa jaringan Abu Umar diduga kuat berada di balik teror tersebut. Motifnya, merupakan aksi balas dendam atas perlakuan polisi kepada anggota mereka. “Dari informasi yang saya dapatkan, ditemukan jenis peluru dari Filipina di tempat perkara penembakan anggota polisi,” kata Sidney, Senin (19/8).

Siapa Abu Umar?

Publik tentu ingat penangkapan tersangka teroris di daerah Tanggerang pada hari Sabtu (12/11/2011), Densus kemudian berhasil menangkap dua orang di daerah Jakarta Timur dan Bekasi pada hari Minggu (13/11/2011). Saat itu, jabatan Kadiv Humas Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, di Markas Besar Polri, Jakarta, Selasa (15/11/2011). Ia mengatakan Abu Omar sudah membangun jaringan teror di Jakarta. Jaringan Omar terbentuk berupa kelompok pengajian Halaqoh I, II, dan III, yang menanamkan ideologi radikalisme. “Halaqoh I dimana kita telah berhasil menangkap empat orang di wilayah Jakarta Barat, di Halaqoh II itu tiga orang, Halaqoh III satu orang.  Jadi mereka sudah mempunyai sel-sel kegiatannya,” kata Saud.

Kelompok Abu Omar ini  merencanakan melakukan aksinya dengan modus penculikan dan penembakan. Berbeda dengan kelompok teroris lainnya, kelompok Omar tak menggunakan modus bom. Saud menjelaskan, ”Mereka juga telah mempersiapkan pelatihan militer, antara lain penculikan, perakitan senjata dengan cepat, bongkar pasang senjata api, dan menembak.”

Saat itu pula, jabatan Kabag Penum Polri, Kombes Pol Boy Rafli Amar, di Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/11/2011) menegaskan, ”Target mereka antara lain penyerangan kantor polisi, sudah ada dokumen perencanaannya untuk beberapa kantor polisi.” Selain kantor polisi, mereka juga menargetkan serangan kepada organisasi masyarakat tertentu. “Dari beberapa dokumen mereka miliki juga rencana kepada beberapa kelompok masyarakat lain yang masih didalami,” kata Boy saat itu.

Sementara, anggota Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Adrianus Meliala, yang juga analisis kriminolog Universitas Indonesia (UI), meminta kepada pemerintah untuk serius mengatasi serangan pelaku teror ini. “Polisi memang lawan mereka. Sebenarnya yang dikejar Densus 88, tapi karena tidak terlihat lalu yang jadi sasaran polisi berseragam,” katanya.

Pelaku penembakan terhadap anggota Polri jelas merupakan kelompok terorganisasi dan mempunyai kapasitas kekerasan terencana, memiliki kemahiran menggunakan senjata api, mempunyai tingkat keberanian luar biasa (lokasi penembakan dekat Polsek, menjelang apel), dan kemampuan mengkalkulasi risiko (sudah menyiapkan jalan keluar dalam situasi pengejaran),” kata kriminolog Universitas Indonesia, Mulyana W Kusumah, di Jakarta Sabtu (17/8/2012).

Menurut Mulyana, kelompok pelaku diduga bukan berasal dari luar Jabodetabek sebagaimana ditunjukkan oleh pemilihan sasaran, waktu, lokasi dan pola melarikan diri (pattern of escape).

“Dengan keberhasilan kelompok pelaku menciptakan suasana perang psikologis (psy war) yang menimbulkan ancaman atas rasa aman terhadap polisi baik secara individual maupun insitusional, harus diwaspadai aksi susulan yang berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek,” pungkasnya.

Secara terpisah, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Pol. Rikwanto mengatakan, penembak polisi di Pondok Aren, Tangerang Selatan, diduga terlatih. “Dilihat dari cara dia melakukan, memilih waktu, memilih sasaran,” ujarnya. Rikwanto menambahkan salah satu indikasinya adalah jarak tembak antara korban dengan pelaku. “Dari kesaksian yang ada, tembakan berjarak 2-2,5 meter, baik yang pertama maupun yang kedua.” Dengan jarak seperti itu, pelaku bisa menembak dengan jitu. Kedua polisi yang menjadi korban ditembak hingga tewas. Dalam kasus ini, penembak harus memiliki mental kuat dan tingkat akurasi yang tinggi.

Pantauan Nusa Raya, hingga Minggu, 18 Agustus, belum ada titik terang atas serangkaian penembakan ini. Di masyarakat beredar kabar bahwa penembakan ini berkaitan dengan banyaknya penggrebekan kartel narkoba. Namun kabar ini belum bisa dikonfirmasi.

Sementara, Kepala Polres Tasikmalaya Kota AKBP Iwan Imam mengatakan, Detasemen Khusus (Densus) 88 Mabes Polri yang menangkap seorang warga Kawalu, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (18/8/2013) pagi, telah mengabari keluarga terduga teroris tersebut.

“Informasi yang diterima, pihak keluarga sudah dikabari terkait penangkapan oleh Densus,” terang Iwan saat dihubungi, Minggu (18/8/2013) petang. Penangkapan warga Kampung Cijeruk Hilir, Kelurahan Cibeuti, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, imbuh Iwan, langsung ditangani Densus 88 dari Jakarta.

Sebelumnya Densus 88 menangkap seorang pria asal Kampung Cijeruk Hilir, bernama Iwan Priadi (44),  di rumahnya, Minggu (18/8/2013) pagi. Lelaki itu diduga salah seorang jaringan penembak polisi di Pondok Aren, Tangerang, Banten, pada Jumat (16/8/2013). Iwan diduga memasok sepeda motor pada pelaku penembakan.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat, Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Boy Rafli Amar mengatakan, untuk memburu para penembak tersebut polisi berkoordinasi dengan pihak TNI. Kordinasi ini dilakukan untuk mengumpulkan data dan langkah pencarian para tersangka. “Koordinasi di jajaran intelijen, karena TNI juga memiliki intelejen. Diharapkan, jaringan intelejen TNI bisa memberikan informasi kepada kami,” kata Boy.

Pelaku penembakan terhadap anggota Polri jelas merupakan kelompok terorganisasi dan mempunyai kapasitas kekerasan terencana, memiliki kemahiran menggunakan senjata api, mempunyai tingkat keberanian luar biasa (lokasi penembakan dekat Polsek, menjelang apel), dan kemampuan mengkalkulasi risiko (sudah menyiapkan jalan keluar dalam situasi pengejaran),” kata kriminolog Universitas Indonesia, Mulyana W Kusumah, di Jakarta Sabtu (17/8/2012).

Menurut Mulyana, kelompok pelaku diduga bukan berasal dari luar Jabodetabek sebagaimana ditunjukkan oleh pemilihan sasaran, waktu, lokasi dan pola melarikan diri (pattern of escape).

“Dengan keberhasilan kelompok pelaku menciptakan suasana perang psikologis (psy war) yang menimbulkan ancaman atas rasa aman terhadap polisi baik secara individual maupun insitusional, harus diwaspadai aksi susulan yang berpotensi terjadi di wilayah Jabodetabek,” ujar Mulyana.

- See more at: http://gresnews.com/mobile/berita/Hukum/152178-inilah-gambaran-tentang-siapa-penembak-polisi-di-pondok-aren#sthash.mkYTLCdW.dpuf

Catatan yang dihimpun Nusa Raya, pasca reformasi TNI kebingungan bagaimana menghadapi desakan reformasi militer dibawah kendali pemerintahan sipil. Kebingungan mempertahankan atau memperbaiki citra sebagai pelanggar HAM dan pembunuh rakyat sendiri. Pasca reformasi, elit-elit polisi berhasil melakukan revitalisasi dengan segala cara termasuk suap miliaran rupiah kepada DPR-RI untuk memuluskan langkah penguasaan seluruh perikehidupan keamanan masyarakat melalui Undang-Undang. Super Cop Pro-Justisia. Pasca reformasi, intelijen melakukan beberapa kali reorganisasi, membesar-mengecil di masing-masing wilayah. Semua berusaha mengadaptasikan diri terhadap perkembangan ancaman.

“Babak lanjutan perang melawan teror sedang mengalami metamorfosa,” ujar pegiat intelijen Bondan Wibisono saat dihubungi Nusa Raya (20/8).

Menurutnya, sejak awal dalam situasi politik-ekonomi yang morat-marit, rusaknya beberapa sendi koordinasi keamanan nasional mendorong petualang separatisme dan komunitas Darul Islam menggeliat kembali.  Alih-alih perang melawan teror, dari berbagai arah ke Indonesia untuk mendukung terciptanya suasana perang global melawan teror, project the war on teror dimulai. Indonesia menjadi bagian penting dari cerita global, karena keterlibatan aktivis-aktivis Islam Indonesia dalam perang Afghanistan sejak tahun 1980-an khususnya di tahun 1984 cukup signifikan. “Dari catatan saya pribadi ada banyak asal Indonesia. Meski banyak pejuang Indonesia yang tidak benar-benar terjun dalam peperangan, namun mereka sudah mempelajari banyak hal dari pelatihan perang dan pengenalan senjata yang sangat baik,” ungkapnya.

Bondan menambahkan, kelemahan utama para pejuang asal Indonesia yang terus mengalir dalam sejumlah konflik di Timur Tengah adalah pemahaman politik global dan permainan intelijen internasional yang merancang perencanaan dalam skala global dengan tujuan yang tidak dipahami oleh kebanyakan para pejuang asal Indonesia.

“Saya berusaha memberikan pendapat kepada para aktivis Islam untuk melakukan introspeksi serta pembukaan wawasan yang lebih luas. Namun inflitrasi ke dalam organisasi para aktivis Islam sudah sedemikian dalam yang kemudian melahirkan semacam deklarasi jihad yang dirangkai sedemikian rupa mencakup kawasan di Asia Tenggara. Tidaklah mengherankan bila justru para ahli politik internasional asal AS yang kemudian mengklaim diri sebagai  para ahli atau pengamat terorisme mampu melakukan pemetaan gerakan terorisme Asia Tenggara (sebagai front kedua),” jelasnya.

Setelah gerakan terorisme Indonesia melalui labelling Jemaah Islamiyah semakin mantap dan terus bergulir pasca Bom Bali I. Mulailah CIA menanam budi dengan berbagai informasi “penting” serta “kerjasama” yang sebenarnya sudah ditunggu-tunggu oleh kalangan aparat keamanan Indonesia. Australia bahkan termakan atau membiarkan diri ikut meramaikan karena memang sangat medambakan masuk dalam wilayah operasi Indonesia dengan alasan ikut serta dalam permainan global AS. Asutralia dengan sukarela menggelontorkan dana dan proyek kerjasama dengan hampir seluruh instansi keamanan di Indonesia.

Mulailah satu per satu cerita prestasi penangkapan dan pembunuhan teroris dilakukan oleh aparat keamanan. Baik Polisi maupun intelijen melakukan operasi-operasi menjanjikan prestasi dan kenaikan pangkat elit pimpinan yang signifikan. Sementara pelaksana operasi baik intelijen maupun anggota Densus 88  harus menanggung resiko tinggi. “Tahukah anda bahwa kesejahteraan anggota Densus 88 tidak sehebat yang difitnahkan banyak pihak dengan mega proyeknya. Yang semakin kaya tentu saja berada di pucuk pimpinan,” ujar Bondan.

Itulah sebabnya di Indonesia hampir sama kondisinya dengan kebanyakan failed state, tambah BW begitu ia akrab dipanggil, terlalu banyak jenderal kancil. Saat ini ketidakpastian masa depan Indonesia semakin mengerikan karena tidak ada satupun elemen bangsa yang kuat yang mampu mengawal langkah Indonesia menjadi negara berdaulat yang tidak bisa dilecehkan.

Menurutnya, akar terorisme di Indonesia adalah masuknya infiltran-infiltran yang memusuhi Islam serta mengarahkan para alumni mujahid untuk melakukan tindakan teror. “Saya sangat yakin, hal ini tampak dari fakta bahwa para mujahid asal Indonesia pada umumnya adalah orang-orang sederhana yang ingin mengabdikan hidupnya untuk tegaknya agama Islam. Sangat tidak benar, bahwa mujahid Indonesia adalah orang miskin dan berpendidikan rendah. Hal ini adalah propaganda musuh Islam yang sengaja masuk dalam bentuk informasi menyesatkan. Lihat sendiri bagaimana kondisi pejuang asal Indonesia di sebagian wilayah Timur Tengah, mereka adalah orang-orang yang tidak mabuk harta seperti kebanyakan pemimpin di negeri ini,” jelas BW.

Sekali lagi, Bondan Wibisono menjelaskan, kelemahan mereka justru pada lemahnya kewaspadaan bahwa mereka diperalat oleh infiltran-infiltran untuk merubah sikap tegas dalam memegang ajaran Islam menjadi gerakan teroris. Alasan berupa teror satu-satunya jalan karena jalan lain sudah tertutup oleh kapitalisme global adalah rayuan yang cukup berhasil. Padahal sel-sel tersebut sudah dalam genggaman intelijen, termasuk di Indonesia. “Adalah soal pilihan untuk segera menghancurkan atau menjadikannya mainan,” pungkasnya. (nr)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge